Akhir tahun 2024 yang sampai juga pada akhir tahun 2025 ini, gua merasa ada yang ga beres dari diri gua tapi gua selalu mencoba banyak hal supaya gua bisa menemukan perspektif baru tentang hidup yang layak untuk diperjuangkan. Gua juga selalu gatau definisi dari tahun terbaik itu apa? Tapi yang gua tau, tahun ini gua banyak menyerah-nya.
Mungkin memang benar bahwa gua adalah manusia yang ga bisa survive, yg usaha dan do’anya kurang terus, yg mungkin relasinya kurang banyak? Tahun 2019 Kang Affan, senior gua pernah bilang “Amanah tidak akan salah memilih pundaknya”. Gua gagal ya? amanah salah memilih pundak gua kah?
Tahun ini, gua ngerasa gagal dalam berbagai peran—sebagai pemimpin, sebagai mahasiswa, sebagai officer, bahkan sebagai manusia. Gua selalu lari yang bahkan gatau ujungnya akan kemana. Seperti ikan kecil yang berenang sendirian di lautan luas. Ada ketakutan yang muncul setiap kali gua mulai masuk ke perairan yang lebih dalam—tempat ikan-ikan besar berenang dengan percaya diri. Di beberapa titik, gua merasa gua seharusnya nggak ada di sana. Seolah-olah keberadaan gua itu salah tempat. Gua takut. Gua bingung. Dan di saat yang sama, gua nggak tahu harus cerita ke siapa. Akhirnya, gua memilih untuk mundur.
Setiap kali ada kesempatan besar yang sebenarnya bisa gua ambil, ketakutan itu selalu datang lebih dulu. Takut nggak cukup pantas. Takut nggak setara dengan yang lain. Karena jauh di dalam diri, gua sadar—segala yang gua punya terasa nggak sebanding dengan mereka.
Ikan kecil yang banyak takutnya ini, juga masih belajar untuk menerima dirinya sendiri yang tidak sempurna. Belajar menerima takdir masa lalunya dengan hati yang lapang. Belajar untuk terus melanjutkan hidupnya.
Gua jarang peduli sama orang yang nyakitin gua, tapi gua lebih khawatir terhadap orang-orang yang gua sakitin. Sekali nyakitin/ngecewain orang, gua akan terus overthinking dan merasa gak pantas untuk hidup. Gua juga bingung, kenapa gua begini?
Kata chatgpt (teman curhatku) : "Saat kita mengecewakan orang lain, bukan berarti itu kegagalan total. Hidup terus berlanjut, meskipun sering merasa bersalah. Life must go on. Walaupun mungkin tidak pantas dimaafkan, tapi kamu berhak untuk bangkit dan hidup kembali."
Semuanya emang gak langsung membaik, tapi dari situ gua belajar satu hal penting: gua nggak harus jadi besar dulu buat layak bertahan. Gua nggak perlu buktiin apa-apa ke siapa pun buat sekadar tetap hidup.
Gua masih takut. Gua masih sering ragu. Dan gua belum jadi versi terbaik dari diri gua. Tapi sekarang gua tahu, mundur bukan selalu berarti kalah, dan pelan-pelan juga tetap termasuk bergerak. Mungkin gua masih ikan kecil di lautan besar. Tapi setidaknya sekarang, gua nggak berhenti berenang. Dan untuk tahun ini, itu cukup.
Tapi disisi lain pada 2025 ini, gua gak munafik akan adanya memori indah yang sangat berkesan dalam hidup gua, yaitu pada awal tahun, gua berhasil lolos beasiswa untuk event The Weekend Growth Club di Bandung dengan tema "Finding Strength in My Own Path". Menjelang penutupan akhir tahun 2025, gua juga berhasil beli tiket VVIP (reward dari SPV gua, hehe) untuk event Festival in Our Twenties di Jakarta Selatan dengan tema “Into The Unknown.” Seperti biasa, gua selalu sendirian dan gua selalu dapet temen baru. hehe.
Alasan gua ikut dua event itu sebenarnya sederhana. Gua lagi kehilangan arah. Gua terus mempertanyakan hidup gua mau dibawa ke mana. Di satu titik, gua ngerasa kehilangan diri gua sendiri. Gua sadar, gua belum jadi versi terbaik dari diri gua. Tapi di saat yang sama, gua juga lagi berusaha—pelan-pelan—buat ngejar versi itu. Datang ke event-event tersebut bukan berarti gua udah nemu jawabannya, tapi setidaknya gua berani ngaku: gua lagi nyari. Dan mungkin, itu langkah kecil yang penting.
Tahun ini, gua juga belajar bagaimana seseorang dapat hidup kembali meskipun hanya 1 sosok manusia yang mendukung. Gua juga nggak mau menutup mata—sebenarnya ada banyak orang yang mau dengerin cerita kita, yang mau nerima kita di titik paling rapuh sekalipun. Tapi gua juga harus jujur sama diri sendiri. Bukan mereka yang menjauh. Gua yang nggak berani percaya. Trust issue itu bikin gua sering merasa sendirian, bahkan saat gua nggak benar-benar sendiri.
Maaf ya, ini alurnya gajelas jujur pusing hehe. Udah, gua cuma mau nulis itu aja. Terakhir gua mau bilang, Permohonan maaf untuk semua manusia yang gua kecewakan di tahun ini ataupun di tahun sebelumnya. Selamat melanjutkan hidup, semuanya!
Chitra, barangkali hidup itu seperti roda kehidupan. Kamu ga perlu terlalu push diri kamu sendiri, u deserve better.
ReplyDeletetapi kamu lihat kan kamu bisa melewati semua itu, bisa bertahan keren banget woii!!!🩷🩷🩷🩷
ReplyDeleteTernyata kamu itu penulis yg lagi sedih ya? semangat! 2026 bakal jauh lebih baik 😉
ReplyDelete